Keluargaku, Pendidikanku

Dear Takita,

Ish, kakak seneng lho baca cerita seru Takita. Takita hebat sekali, ayah dan ibu Takita juga sangat hebat. Pastinya Takita bangga punya ayah dan ibu seperti ini.

Kakak juga bangga dengan ibu dan bapak kakak. Ibu dan bapak kakak, berprofesi sebagai guru. Ibu seorang guru SD dan bapak seorang guru SMA. Meskipun beliau berdua sibuk dengan pekerjaannya, tapi beliau berdua tidak pernah meninggalkan kewajibannya untuk mendidik kami.

Kakak ingat, ibu yang mengajari kakak belajar membaca dan menulis. Jaman kakak kecil, media belajar baca tulis masih sangat minim. Dulu rasanya belum banyak yang tau tentang flashcard, jadi ibu sendiri yang membuatnya untuk kakak belajar di rumah. Ibu menulis huruf-huruf di kertas karton. Ibu juga membelikan kakak buku kotak. Itu lho buku yang lembarannya sudah ada garis kotak kotaknya. Nah dengan buku itu kakak belajar menulis, em… tepatnya belajar mencontoh tulisan ibu. Saat belajar menulis ini kakak ceritakan disini ya…. Barangkali Takita tertarik untuk membacanya disini.

Rasanya sangat susah mempelajarinya, tapi ibu dengan sabarnya mengulang dan mengulangnya lagi hingga kakak bisa memahami. Oiya, dulu bapak kakak punya percetakan untuk mencetak undangan, sampul buku atau yang lainnya. Nah saat proses mencetak itu kakak diperbantukan untuk meneliti kata demi kata agar tidak ada kata yang salah. Ketika kakak menemukan kesalahan kakak akan mendapat hadiah dari bapak. Wiiih seneng banget saat itu, jadi kakak harus seteliti  mungkin mencari kata yang salah. Secara tidak langsung, kakak merasa ini juga menjadi bagian dari proses belajar baca tulis kakak.

Sampai pada akhirnya kakak bisa juga membaca dan menulis. Yiipiiiiii….senang sekali rasanya. Majalah yang suka kakak baca waktu itu adalah kuncup. Aah rasanya Takita dan teman-teman tidak ada yang tau majalah itu. Tidak perlu nungguin ibu atau bapak membacakannya. Yang jelas, kakak jadi senang membaca, majalah, koran buku cerita semuanya kakak baca karena dengan membaca kita jadi tahu banyak hal di luar sana. Seru ternyata!

Kebiasaan membaca ini,  terbawa sampai saat ini. Kakak juga mulai membiasakan anak-anak kakak membaca. Meskipun mereka masih belum bisa membaca sendiri mereka suka sekali membuka-buka bukunya. Dan bercerita sesuai gambar yang ada. Lucu deh kalau dengerin si sulung mengarang cerita. Apalagi kalau dia sedang membacakan cerita untuk adiknya. Mudah-mudahan mereka gemar membaca hingga akhir hayat ya, Takita. Aamiin…

2013-04-04 17.41.17

Tidak hanya baca dan tulis yang diajarkan ibu dan bapak, beliau berdua mengajarkan banyak hal kepada kakak. Misalnya, saat kakak ingin membeli barang yang kakak inginkan, ibu dan bapak tidak begitu saja memberikan kakak uang untuk membeli barang tersebut. Lalu bagaimana ibu dan bapak mengajarkannya? Kakak harus bisa membeli barang tersebut dengan uang yang kakak sendiri. Ibu dan bapak mengajarkan kakak menabung, menyisihkan sebagian dari uang jajan jika ingin membeli sesuatu. Jika kakak ingin barang tersebut segera terbeli, maka ibu dan bapak menawarkan pinjaman kepada kakak. Dan kakak harus membayar hutang tersebut di kemudian hari. Caranya, dengan memotong uang jajan sehari-hari. Atau dengan hasil jualan.

Iya jualan! Saat SD kakak sudah mulai belajar berjualan. Kakak masih ingat saat kakak menjual gelang dari kabel yang diuntai sedemikian rupa hingga menjadi gelang yang unik. Kakak menjualnya kepada teman teman sekelas. Hasilnya lumayan lho… bisa kakak tabung. Senang sekali bisa membeli sesuatu dengan uang jerih payah sendiri. Akhirnya kakak jadi ketagihan berjualan, hehehe. Padahal awalnya, kakak merasa ibu dan bapak tidak sayang kakak. Perhitungan sama anak sendiri. Sedih rasanya saat tidak bisa mendapatkan barang yang kakak inginkan dengan segera. Tapi sekarang kakak bisa merasakan manfaatnya dan kakak sangat sangat bangga kepada ibu dan bapak. Teladan beliau menjadi pelajaran yang sangat berharga buat kakak.

Di rumah, kakak juga sering lho belajar sambil bermain dengan anak pertama kakak, namanya Athaya. Dia berusia 4 tahun, jadi lagi senang senangnya berekplorasi dan ingin tahu segalanya. Athaya  senang mengeja huruf demi huruf, oleh sebab itu kakak mencontoh apa yang dikerjakan ibu dulu kepada kakak. Kakak membuat bahan bacaan buat Athaya mengeja, seperti foto dibawah ini.

2013-04-17 17.39.41

Kadang Athaya juga mau belajar berhitung, akhirnya kakak membuatkan semacam lembar kerja dimana Athaya sendiri yang menentukan gambarnya, lalu dia menuliskan angka dibawahnya kemudian menghitungnya

2013-04-16 19.03.12

Kadang kita berkreasi dengan barang barang bekas, misalnya membuat kreasi dari sterofoam bekas.

PhotoGrid_1364810893597

Atau membuat sepatu dari karton bekas, jadi Athaya bisa belajar mengikat tali sepatu

PhotoGrid_1364785435580

Atau menggunting gambar dari majalah bekas, kemudian menempelkan dikertas menjadi sebuah cerita.

PhotoGrid_1363583457977

Kadang kakak dan Athaya berekperimen layaknya ilmuwan. hehehe seruuukan…..

PhotoGrid_1366046170558

Dan masih banyak hal lain yang kakak kerjakan bersama-sama. Lain kali kakak ceritakan lagi ya…. Sekarang kakak mau mandiin adik Aliyya dulu ya Takita…. Semoga cerita kakak bisa menghibur Takita dan teman-teman yang lain. Salam buat ibu dan ayah ya…..

Posting ini diikutkan Program Keluargaku Pendidikanku oleh Takita dan Blogfam 

[resep] Pancake Buttermilk

Bosen sarapan nasi? Bisa dicoba sarapan ama pancake, apalagi makannya hot from the pan hahahhaa maknyuuus…..  Aaah repot pagi pagi mesti bikin pancake. Siapa bilang? Hayuk atuh dicoba dulu…. soalnya ga perlu keluarin senjata perbakingan yang canggih-canggih. Percaya deh….

Resep ini, saya temukan di web-nya Martha Stewart.  Eiiits, tunggu dulu jangan langsung nyerah, beneran deh ga susah… saya copasin ya, siapa tau kalian males klik klik lagi, hahahha

Best Buttermilk Pancakes

Ingredients

  • 2 cups all-purpose flour
  • 2 teaspoons baking powder
  • 1 teaspoon baking soda
  • 1/2 teaspoon salt
  • 3 tablespoons sugar
  • 2 large eggs, lightly beaten
  • 3 cups buttermilk —  saya pakai 2 cup susu UHT plain + 4 sdm air jeruk nipis
  • 4 tablespoons unsalted butter, melted, plus 1/2 teaspoon for griddle  — saya biasanya pakai margarin, jadi garamnya di skip

Directions

  1. Heat griddle to 375 degrees. Whisk together flour, baking powder, baking soda, salt, and sugar in a medium bowl. Add eggs, buttermilk, and 4 tablespoons butter; whisk to combine. Batter should have small to medium lumps.
  2. Heat oven to 175 degrees. Test griddle by sprinkling a few drops of water on it. If water bounces and spatters off griddle, it is hot enough. Using a pastry brush, brush remaining 1/2 teaspoon of butter or reserved bacon fat onto griddle. Wipe off excess.
  3. Using a 4-ounce ladle, about 1/2 cup, pour pancake batter, in pools 2 inches away from one other. When pancakes have bubbles on top and are slightly dry around edges, about 2 1/2 minutes, flip over. Cook until golden on bottom, about 1 minute.
  4. Repeat with remaining batter, keeping finished pancakes on a heatproof plate in oven. Serve warm.

Naaah bahan bahannya mudah bukan? Dan yang paling penting gak perlu keluarin timbangan ama mixer. Aduk aduknya pakai wisk biar agak keren dikit atau pakai sendok juga ga masalah kok. Dijamin, pancake ini akan berlubang lubang seperti ini….

2013-04-03 08.16.30Pancake ini enak disantap selagi hangat, toppingnya pun bermacam-macam, tergantung apa yang ready di rumah. Gula halus, madu, coklat leleh ataaau disantap tanpa toppingpun terasa nikmat. Gak percaya? Monggo dipraktekin di dapur masing masing…. hehehe

Harta Karun Sepatu

Athaya outfit

Tataaraaaa…… itu deretan alaskaki athaya yang berhasil diselamatkan :) . Mulai dari dia baru lahir sampai usianya 4 tahun 3 bulan.Memang sedang dalam usia pertumbuhan jadi dalam setahun bisa beli sepatu lebih dari sekali. Model model sepatunya standart anak ceweklah mayoritas pink dan tidak bertali.

Akhir-akhir ini, sulungku sudah bisa mengekspresikan dirinya. Sudah bisa menentukan sendiri apa yang dia mau. Sayapun memberikan kebebasan, selama itu masih berada di jalur yang aman bagi dia. Salah satunya dalam memilih sepatu. Sebelumnya, athaya hanya duduk manis dibangku yang tersedia dan mencoba apa yang sudah saya pilihkan untuknya. Sekarang, begitu masuk toko sepatu, dia langsung mengitari rak rak sepatu kemudian mengambil salah satu dari deretan sepatu-sepatu itu dan langsung mencobanya. Tidak hanya satu dua sepatu yang dia coba, tapi semuanyaaaaa *ooooh maigat*. Mbak-mbak yang jaga sudah jutek ngliyatinnya…. :) )

Coba sana, coba sini… akhirnya dia memilih sepatu yang bertali. Sejauh ini alhamdulillah athaya sudah bisa memakai sepatu sendiri. Tapi kalau yang bertali?? Untuk menyimpul saja dia sudah bisa, tapi untuk mengikat pita, saya yakin dia belum bisa.

Untungnya, sepatu yang dia pengen tidak ada yang pas dikaki atha alias kosong. hehehhe sayapun bernafas lega :) ) karena saya sudah membayangkan betapa repotnya saat akan memakai sepatu. Belum saatnya dia memakai sepatu bertali :p. Sempet ngambek karena apa yang dia pengen ngga ada. Setelah diberikan pilihan, pakai sepatu yang sudah sempit, atau beli sepatu model lain?

Sempet mau nangis karena apa yang dia mau tidak terkabulkan. Tugas saya untuk memberikan materi terselubung tentang apa yang dia inginkan tidak selalu dia dapatkan. “Tapi bun, kakak kan udah besar… jadi sepatunya harus ada talinya” begitu sanggahannya. Ups, ternyata Atha punya pikiran seperti itu. Anak besar = Sepatu bertali. Oalah nduk… kamu sudah bisa beranalogi. Alhamdulillah, Atha bisa menerima apa yang saya sampaikan. Akhirnya bye bye sepatu bertali…..:D

Nah, akhirnya saya membuatkan prakarya untuk sarana athaya belajar ikat mengikat sepatu seperti postingan ini.

Aliyya 3Month

2013-03-29 10.08.57

Tepatnya 4 hari lagi, Aliyya genap berusia 3 bulan tapi gapapa kan kalo saya posting sekarang? Mumpung mood nulis menggebu :) ) *efek diracunin ama teman-teman di forum blogfam*. 

Bukan cuma saya dan suami yang bilang kalau Aliyya ini fotocopy-annya Athaya, tapi semua orang yang tau kecilannya athaya pasti bilang hal yang sama. Apalagi kalau udah pake baju lungsuran, hahhaha….plek ketiplek! Sampe untuk urusan kulit juga sama, sama sama alergi seafood dan turunannya. Kok saya tau? Ya karena waktu atha saya sempat “puasa” makanan pencetus alergi. Apa sajakah itu? Menurut dokter Gunawan, makanan pencetus alergi itu ada 4, yaitu:

  1. Telur dan turunannya.
  2. Kacang kacangan dan turunannya
  3. Susu sapi dan turunannya
  4. Seafood dan turunannya

Turunan disini maksutnya semua makanan yang mengandung unsur dari bahan makanan tadi. Misalnya, kue yang ada telornya atau jus yang ada susunya ataaau martabak manis isi coklat-kacang atau… terasi! *ngetik sambil ngiler ngebayangin semua makanan itu*. Sedangkan puasa disini, maksutnya sama sekali tidak memakansemua jenin makanan pencetus alergi selama satu bulan. Waktu itu, saya hanya makan daging + sayur sayuran sampai ngeliat menu di meja aja udah males. Setelah sebulan, barulah coba salah satu makanan pencetus alergi satu persatu selama 1-2 minggu. Dilihat, apakah ada reaksi alergi dengan makanan tersebut. Terus begitu bergiliran untuk keempat makanan tadi. Nah, kebayang kan berapa banyak makanan enak yang harus saya hindari? Jadi sebenernya itulah alasan kenapa berat badan saya devisit :) )

Alergi itu sendiri bukan hanya disebabkan oleh makanan, tapi bisa juga karena udara/debu, obat obatan maupun serangga. Untuk penjelasan lengkapnya bisa dilihat disini dan disini.

Susah susah gampang punya anak yang alergian gini karena bener bener harus menjaga makanan, apalagi kalau masih asi. Ibunya harus ektra hati-hati hati alias jangan sampai kecolongan untuk tidak mengkonsumsi bahan makanan pencetus alergi tadi, kalau ngga… reaksi alergi bisa muncul. untuk kasus athaya dan aliyya, reaksinya berupa ruam ditubuhnya terutama dilipatan lipatan leher, tangan dan kaki. Hiks, sedih dan amat sangat merasa bersalah kalau udah ngeliat mereka merah merah begitu :( . Dan mesti dijaga agar ruam itu ga bertambah parah apalagi infeksi, persoalan akan jadi tambah runyam….

Jadi, tetap semangat ya demi aset seumur hidup ini! #selfnote

 

DIY : Shoe Tie Practice

Mengalihkan Athaya dari nonton TV, mengharuskan saya untuk mencari aktivitas lain. Nah, salah satunya adalah aktivitas untuk mengikat tali sepatu… Ide dari blognya Caroline Urdaneta. Caranya gampang kok, yuuuk kita bikin….

Bahan-bahan yang dibutuhkan:
- karton bekas
- Gunting
- Spidol/Pulpen
- Tali Sepatu

Pertama, gambar model sepatu diatas karton.  Kemudian lubangi dengan menggunalan ujung gunting. tatttaaaraaaaa jadi deh…. Model sepatunya bisa macem macem yaa…karena saya ga jago gambar yaa harap maklum…:))

tie shoe board

Naaaah lihatlah athaya asik berkspresi dengan sepatu dummynya….. :) )

PhotoGrid_1364785435580