Momoye, namanya


Sejarah, adalah mata pelajaran yang paling sayah benci, benci banged malah! Karena sayah harus menghafalkan satu peristiwa ke peristiwa yang lainnya. Seperti, kapan Pangeran Diponegoro meninggal, dimana? ato, siapa saja yang termasuk pahlawan revolusi? ato, kapan perjanjian meja bundar dilaksanakan?dimana?dihadiri oleh siapa saja? Hrgggg……….. sayah bisa semalaman menghafalnya dan dalam hitungan beberapa detik akan segera menguap dari ingatan..

Kl searching dilakukan di otak sayah, dengan keyword : merdeka + jepang. Pastilah yang muncul adalah : Jepang menjajah kita setelah 350 tahun kita dijajah oleh Belanda. Dan di buku sejarah eh, PSPB ding *apa ya kepanjangannya?mbuhlah…pokoknya pelajaran sejarah gitu deh*. Pada saat itu bangsa kita diibaratkan keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Sayah inget benar perumpaan ini, karena waktu itu sayah ngebayangin kalo Belanda itu punya banyak harimau dan Jepang punya banyak buaya…*dodol mode on*. trus tentang romusha. trus tentang bom di Heroshima – Nagasaki.

Sedangkan kata momoye, jugun ianfu, asrama telawang, tak pernah sayah temukan di barisan cerita tentang sejarah indonesia di buku buku sejarah yang pernah sayah baca di bangku sekolah.

Miris dan peris saat membaca paragraf demi paragraf penuturan Mardiyem, salah seorang yang telah menjadi korban perbudakan seks militer Jepang. Istilah ini dikenal dengan jugun Ianfu. Secara harfiah, Ju = ikut, Gun = militer/balatentara, Ian = penghibut, Fu = perempuan, sehingga Jugun Ianfu berarti : Perempuan penghibur yang ikut militer.

Di Asrama Telawang inilah, Momoye –nama pemberian dari Jepang untuk Mardiyem– dipaksa “melayani” para militer militer Jepang saat dia masih berusia 13 tahun, saat dia belum menstruasi. Pada hari pertama, dia “melayani” hingga 6 orang secara berturut-turut tanpa jeda meskipun sakit, perih dan darah mengalir tanpa henti diantara kedua kakinya. *mringis ngebayangin sakitnya*. Penderitaan ini, gak berakhir hari itu saja… justru ini adalah awal dari penderitaannya dari tahun 1942 hingga Jepang kalah di tahun 1945.

Tak hanya kekerasan batin yang mereka terima, tapi juga kekerasan fisik. Tak jarang mereka dianiaya, saat mereka tidak bisa memuaskan nafsu tentara tentara Jepang yang meluap luap. Sampai saat Mardiyem, diharuskan menggugurkan kandungan diusianya yang masih belia, dan mengakibatkan rahimnya rusak. *nahan nafas dalem dalem*

Saat Jepang sudah kalah, masih banyak tentara tentara Jepang yang masih sembunyi di hutan-hutan. Hingga ditemukan Rosiyem –salah seorang korban Jugun Ianfu-, dia ditemukan mati dengan kepala digantung dengan seutas tali dan daging di kedua pahanya sudah habis teriris di dekat sekumpulan tentara jepang yang sedang membakar sate *hyaaaa…….berenti baca. dan nutup mata*

Sumpah, bener bener gak punya hati nurani…. Dan mereka, dianggap seakan tidak pernah ada. Seperti biasa, hanya bisa menutup mata….

Kita berhutang kepada rahim-rahim mereka yang telah berani dan tabah menjalani kehidupan yang teramat pedih….

EkaHindra

11 thoughts on “Momoye, namanya

  1. Jika demi pembelajaran, sejarah sebenernya penting. Dan itu perlu kejujuran sekaligus ketelitian.
    Tanpa kejujuran, sejarah itu jadi topeng: pengkhianat bisa terlihat jadi pahlawan, dan pahlawan sesungguhnya malah tak dapat tempat dalam ingatan kita.

  2. PSPB = Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 😉

    speechless bacanya, ternyata sedemikian berat penderitaan yg harus mereka tanggung..

  3. jadi inget dulu salah satu guru bahasa Inggris SMA-ku dapet beasiswa untuk belajar ke Jepang selama 1 tahun dari dana Jugun Ianfu. Mungkin karena pemerintah Jepang merasa berdosa pernah membuat bangsa kita menderita, jadi lalu mereka membuat program beasiswa untuk menebusnya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s