tertampar di pasar

Biasa, setiap hari sabtu atau minggu – – adalah jadwal ke pasar untuk membeli segala keperluan dapur. Mulai dari daging, sayuran, buah-buahan, bumbu dapur sampai pernak-pernik buat athaya :D. Maklum, beberapa bulan terakhir semenjak adanya kontroversi penjual yang boleh masuk komplek, tukang sayur yang ada suka seenak-enak udelnya. Baik pas ngasih harga, lokasi jualan maupun jadwal jualan. Ya, kita memang butuh tukang-tukang sayur itu, tapi kalo mereka seenak-enaknya gitu ya males juga jadinya. Ditambah pula dengan kenaikan harga  kebutuhan pokok, membuat saya ngebelain ke pasar yang pastinya akan dapat harga jauh lebih murah ketimbang belanja di tukang sayur.

Sayapun sudah mempunyai penjual langganan yang lengkap, sebut saja si mbak gendut. Memang sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan penjual yang lain, namun barangnya bagus-bagus dan bersih seperti yang ada di supermarket. Jadi menurut saya worth it-lah. Sayangnya, dia ga menjual jahe dan temen-temennya. Jadi dengan terpaksa saya harus mencari penjual lainnya.

Nah, si ucup ini yang menjadi tempat favorit saya. Karena disini saya bisa membeli barang yang ga di jual di mbak gendut. Lapaknya selalu rame, jadi kalo kita diem aja bakalan keduluan mulu sama orang-orang yang baru dateng. Biasa, budaya antri masih belum keluar secara otomatis.

Namun, minggu itu tak terlihat si ucup. Yang ada hanyalah istrinya yang tengah berbadan dua dan (mungkin) anaknya yang berusia kira-kira 3 tahunan. Huh, kesian juga ngeliatnya, tampaknya udah bulan-bulannya untuk lahiran, tapi istri si ucup ini masih melayani pembeli yang membeli jahe 10kg. Sungguh luar biasa! Dalam hati kecil saya, kemana si ucup? Teganya dia ngebiarin istrinya jualan sendirian. Belum sempet tanya, ibu-ibu yang baru dateng melontarkan pertanyaan yang sama.

ibu-ibu : “Si ucup kemana neng?”
istri ucup : “lagi libur dia bu” sambil nimbang belanjaan orang
ibu-ibu : *mengrenyitkan keningnya, heran* “liburan?”
istri ucup : *tetep melanjutkan ngelayanin orang*
ibu-ibu : *tambah penasaran* “liburan kemana?”, tanyanya menyelidik sekaligus penasaran
istri ucup : *nyengir, sambil tetep nimbang dan ga berusaha menjawab*
ibu-ibu : “ih si eneng malah ketawa. Asik dong liburan, istrinya hamil ditinggalin”
istri ucup : “bang ucup lagi latihan manasik haji”

Jeddiiieeeerrrr *backsound suara petir*

Saya seakan tertampar mendengar jawaban istri si ucup. Subhanallah… penjual bumbu dapur ini, insya Alloh sudah bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. Sedangkan kami, masih belum tau kapan bisa berangkat kesana. T_T

Ya Rob, tuntun dan jagalalah kami selalu dalam jalan-Mu agar dapat menggapai ridho-Mu….

6 thoughts on “tertampar di pasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s