Tulisan yang tertunda

Hamil, melahirkan dan menyusui merupakan hal baru bagi saya. Hamil, merupakan sebuah proses panjang dari sebuah penantian. Saat-saat menata mental untuk bertemu dengan belahan jiwa yang selalu berdekatan dengan kita. Sometimes, ingin segera bertemu dengannya, ingin segera mendekapnya. But another time, i’m so worried. Apa yang dapat saya berikan padanya?

Segala upaya kami lakukan agar dapat memberikan yang terbaik. Buku-buku bertemakan kehamilan dan melahirkan selalu kami ambil dirak-rak toko buku. Milis-milis parenting, juga kami ikuti. Pengalaman orang tua dan teman-teman kami compare dengan info terkini. Karna kami ga mau, menelan mentah-mentah padahal kadang semua itu hanya mitos ataupun “katanya”yang sering kali memberatkan.

Di minggu ke 38, saya merasakan bahwa pinggang atau perut ah… entahlah yang jelas saya merasa sakit sekali. Awalnya ngga kepikiran kalo itu adalah sebuah kontraksi, hingga setelah beberapa kali saya mengeluh sakit, suamisaya nyeletuk: “Bund, jangan-jangan bunda lagi kontraksi…”. Lantas suamisaya mengambil notes dan pulpen, dan juga jam tangannya. “Mau ngapain aiy?”, tanya saya. “Bunda kasih tau ya kalo sakit lagi”.

Ketika sakit itu datang, saya memberi tanda kepada suamisaya. Diapun mencatatnya, sambil memencet timer di jam tangannya. Melihatnya, membuat saya tertawa dalam sakit. Lucu, kalau diingat-ingat. Karna saya sudah membaca berkali-kali tentang tanda-tanda mau melahirkan, tapi seakan-akan semuanya lenyap begitu saja.

Detik berjalan sangat-sangat lambat. Hingga subuh menjelang, saya mendapatkan flek. Waw, jangan-jangan emang bener saya sedang kontraksi. Dan kamipun segera bergegas ke rumah sakit yang sudah kita pesan. Sepanjang perjalanan, saya mengingatkan suami “aiya, pokoknya nanti jangan sampai dedek dikasih sufor pas begitu lahir. Kamu bilangin sama suster yang bawa dia nanti”. Suamisaya mengangguk sambil memijit-mijit pinggang saya. “iya bunda, kan kita sudah buat perjanjiannya”. Pengalaman dari teman-teman yang kecolongan anaknya di kasih sufor di RS membuat saya parno. Saya tidak ingin hal tersebut terjadi pada saya, sehingga kami menyetujui form bahwa saya akan melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan jangan diberikan sufor tanpa sepengetahuan kami, orang tuanya.

Begitu sampai di RS, saya langsung di bawa ke kamar bersalin dimana didalamnya terdapat 4-5 ranjang yang berderet dengan kain khas RS sebagai penyekatnya oleh suster jaga saat itu. Sedangkan suami saya, disuruh melengkapi administrasi. Rintihan kesakitan pasien lain yang menyambut saya di ruangan itu.

Sebentar lagi, sayapun merasakan hal yang sama, ucap saya dalam hati.Suster melakukan pengecekan, ah entahlah apa namanya. Yang jelas, saya disuruh menekan sebuah tombol saat saya merasakan dia bergerak dalam perut saya. Sepertinya, hasilnya kurang memuaskan. Suster menempelkan sebuah alat yang ketika dipencet menimbulkan suara mirip klakson truk. Berharap dengan mendengar suara itu dia akan terbangun. Namun, jam segini kan emang jadwal tidurnya dia. Saya tahu persis kapan saat dia bangun, kapan saat dia tertidur karna saya mencatatnya mulai kemahilan di awal bulan ke-5.

Tujuannya untuk mengetahui pola tidurnya dia saat nanti dia lahir, karena menurut informasi yang saya baca pola tidur dia nanti tidak akan jauh berbeda dengan saat dia di dalam kandungan. Sakit yang saya rasakan durasinya semakin lama dan semakin sering. 5 jam berselang, saya sudah merasakan sakit yang teramat sangat. Kaki ini sudah ngga mampu lagi berjalan. Tubuh ini sudah ngga

mampu lagi menahan sakit. Berkali-kali suster melakukan cek dalam, dan bilang masih bukaan 7. Jduaaaar…. bukaan 8 udah sesakit ini, gimana entar bukaan sepuluh…?

Pukul setengah 12, saya sudah benar-benar kesakitan. Suamisaya yang menemani, juga terlihat panik dan juga serba salah. Suster datang lagi dengan peralatan lengkap, kemudian kembali memeriksa dalam. Diapun memberi kode kepada temannya. Kemudian, suster itu mengajari bagaimana cara bernafas dan mengejan. Ahh, sebenarnya apa yang diajarkan si suster itu sangat mudah tapi sangat sulit pada waktu itu. Suamisaya senantiasa mengingatkan “ayo bunda, tarik nafas dalam-dalam, jgn ngejen dulu bunda”, seperti yang telah diajarkan suster tadi. Detik berjalan, jauh lebih lambat dari pada sebelumnya. Seperti gerakan slow motion di film-film, atau bahkan seperti sedang di-pause.

Begitu dokter datang, saya seakan sudah tak bisa menahan diri untuk segera mengakhiri rasa sakit ini. “Kalo udah berasa sakit, ngejen ya bu”, begitu kasa dokter. Saya mengangguk. Tangan suamisaya menjadi lebih dingin daripada tangan saya.

Saat itu, saya malah menantikan rasa sakit itu agar segera datang lagi. Saya sudah ngga sabar. 2 kali mengejan, akhirnya belahan jiwa saya bernafas sendiri dengan paru-parunya. Merasakan dinginnya ruangan ber-AC. Merasakan terangnya lampu. Saya belum dapat melihatnya, namun saya dapat merasakannya. Ini dunia yang baru bagimu, jangan takut ada bunda disini Nak, ucap saya dalam hati.

Subhanallah, jadi ini yang selama ini berada dibalik perut saya. Menemani saya tanpa absen sedikitpun. Kulit kami saling bersentuhan. Detak jantungnya terasa dibalik kulit saya. Hembusan nafasnya lemah. Ini bunda, Nak. Ucapku lirih. Memegang tangan mungilnya sangat menyenangkan. Dia, terdiam diatas perut saya. Dia tertidur. Mungkin dia sangat lelah karna telah melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Kemudian suster meminta izin untuk mengangkatnya. Lhoh? kok? Spontan saya berseru, diakan belum berhasil menemukan puting saya. Suster berargumen demi keselamatan si bayi, agar tidak terkontaminasi. Ruangan bersalinnya memang berisi 2 ranjang, untuk kamar yang paling baguspun. Memang ini yang menjadi salah satu concern kami waktu itu saat hendak memutuskan akan melahirkan dimana. Jumlah ranjang di kamar bersalin. IMD. Room In. Dokter pro ASI. Pelayanan RS. Dari poit-point tersebut RS inilah yang memiliki nilai plus yang lebih.

“katanya IMD sus, kan belum berhasil, Bla bla bla…. ?”. Saya berargumen, tapi tetap saja saya gagal melakukan IMD yang selama ini saya tunggu-tunggu. Suster membawa anaksaya ke ruang bayi. Kecewa? Pasti!

I want my baby! itu yang selalu saya ucapkan pada suami saya. 6 jam kemudian saya baru bisa memeluknya. Memberikan ASI untuk yang pertama kalinya. Saya tidak tahu, saat itu ASI saya sudah keluar atau belum. Yang jelas, saya yakin akan memberikan ASI as she want. Saya sangat percaya diri, meskipun saat itu ASI saya belum keluar, tidak akan membuatnya kelaparan hingga 2 hari kedepan. Setidaknya dengan dia ngenyot akan memacu produksi ASI saya. Saya masih punya waktu 2 x 24 jam agar ASI saya keluar.

Adanya fasilitas room-in sangat membantu kami mengenal satu sama lain. Belajar memahami keinginannya. Kedekatan dengannya membuat saya semakin percaya diri, bahwa ASI saya akan keluar sebanyak yang dia mau. Karena ASI adalah haknya.

Sungguh tidak mudah saat ingin memberikan ASI ekslusif. Karna sebagian besar pandangan masih belum ASI minded. semakin mahal susunya, semakin punya harga diri yang tinggi. Kami sering mendapatkan pertanyaan : Minum susu apa si kecil? Kok ga minum susu? Emang cukup ASInya? Awas kelaparan lho bayinya? Kami hanya saling berpandangan dan tersenyum saat mendengarnya. Dengan pasti saya menjawab, ASI itu yang terbaik dan termurah. Jadi buat apa yang lebih mahal?

Dukungan suami, jelas sangat membantu menguatkan mental saya. Melindungi saya dari godaan-godaan untuk memberikan sufor. Dan pertanyaan-pertanyaan yang bikin down. Selain kata-kata : Hanya anak manusia yang minum susu hewan. Bahkan hewan saja, ga ada yang nyusu ama manusia. Begitu kata Dr. Purnamawati pembicara seminar tentang ASI yang kami ikuti.

Adanya klinik-klinik laktasi dan assosiasi-assosiasi menyusui memudahkan kita untuk berkonsultasi tentang seluk beluk ASI dan menyusui. Mulai dari Bagaimana menyusui yang benar agar tidak terjadi mastitis, merangsang keluarnya ASI, hingga memberikan support untuk memberikan ASI bagi working mom.

Alhamdulillah, dengan kemauan dan kesabaran. Saya dapat menunjukkan pada mereka yang kurang setuju dengan ASI Ekslusif, dengan pertumbuhan anaksaya. Tanpa setetespun sufor hingga usianya genap 1 tahun, berat badannya sesuai dengan growchart. imunitasnya pun tinggi, hingga saat ini – 21 bulan- hanya beberapa kali panas, itupun pada saat proses tumbuh gigi. Sekali mencret, dikarenakan saya memberikan makanan yang kurang steril. Dan beberapa kali batuk pilek.

Begitu dia sakit, kami tidak lantas dengan mudah memberikan obat. Hanya 2 kali dia menelan obat, karna panasnya sudah melebihi batas aman. Selebihnya kami home-threatment. Menjemurnya setiap pagi, memberikan ASI, memeluknya, bahkan dengan merendamnya dengan air hangat.

Alhamdulillah, kami berhasil membuatnya lulus S1 dan sebentar lagi dia akan lulus S2. Tidak mudah memang, saat kita berseberangan pendapat dengan kebanyakan orang. Namun, saat kita bersungguh-sungguh semuanya akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kami berhasil, karna kami yakin ASI adalah yang terbaik diantara semuanya.

Tulisan tertuda ini akhirnya terselesaikan juga, karna di-request sama temen untuk berbagi info mengenai proses dari hamil, melahirkan dan menyusui… Mudah-mudahan tulisan ini menjadi semangad buat yang lainnya…

4 thoughts on “Tulisan yang tertunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s