Atha VS tivi

Televisi, menjadi senjata ampuh saya untuk mengalihkan perhatian Atha. Sederet channel anak mampu mengalihkan perhatiannya. Sedikit saja nganggur, sudah merengek minta nyalain tivi, bahkan saat dia tidur siangpun tv harus nyala, jangankan dimatiin, dipindah channel-nya aja dia tau. Yes, she’s addicted to tivi *tepok jidat sendiri*.

Ini namanya senjata makan tuan. Sekarang, saya yang kerepotan untuk mengalihkannya dari tivi. *emak yang labil :D*. Hmm, sebenernya ini memang salah saya karena telah menjadikan tv sebagai senjata. Padahal niatannya untuk sesaat mengalihkan perhatiannya biar ga rewel saat saya harus disibukkan dengan rutinitas saya pribadi. Entah itu ngubek-ngubek dapur, entah sibuk dengan hobi jahit dan ngerajut, entah sibuk ngurusi orderan galerisaya, entah saat saya ingin browsing dengan tenang, atau saat saya ingin nonton channel lain selain channel anak…😀

Melihat gelagat buruk ini, saya berusaha untuk kembali memanage waktu saya, agar bisa berbagi waktu dengan atha. Okay, boleh nonton 2 judul, setelah itu saya harus berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan perhatiannya dari tivi. Saya ajak dia mewarnai, bermain masak-masakan, bersepeda, maen puzzle atau membiasakan dia untuk mematikan tivi saat adzan berkumandang. Setidaknya dia tidak hanya duduk manis, melihat ke sebuak kotak yang menyuguhkan warna-warna indah, bentuk-bentuk yang menarik, suara yang beraneka ragam dan kosakata yang sangat banyak.

Alhamdulillah, cukup berhasil. Ketika mendengar azan atau ketika saya ingatkan kalau azan, diapun mematikan tivi tanpa protes. Saatnya tidur malam, diapun dengan ikhlas mematikan tivi dan beranjak ke kamar mandi untuk pipis, gosokgigi dan cucitangankaki.

Meskipun banyak juga tingkahnya yang berusaha mengalihkan perhatian saya saat giliran saya nonton. Misalnya saja kejadian seperti ini :

“atha sekarang giliran bunda ya yang nonton…”, ucap saya memberi pengertian karena beberapa saat lagi film korea diputar
“ga mao…”, protesnya
“kan tadi sebelum tidur atha udah nonton”, saya mencoba menawar. “boleh ya…?”
Athapun mengangguk dengan berat hati. Setelah beberapa saat saya nonton, tiba-tiba dia mematikan tivi.
“Lhoh, kok dimatiin?”, protes saya.
“Azan mama…. ga onton ivi (ga nonton tivi)”, sambil mengacungkan telunjuknya dan tersenyum ngeledek.
Oalaaaa, bener kamu nak…. spadahal saya yang ngajarin… tapi karena keenakan nonton sendiri jadi lupa, kalo azan harus matiin tivi.

atau

“Sekarang mama”, kata dia saat saya sudah menggantikan channel ke salah satu tivi. Tidak lama dia nyodori saya majalah.
“mama, baca ini”, pintanya, dan mengarahkan kepala saya saat saya berusaha mencuri-curi pandang ke arah tivi. Pokoknya harus melihat kearah buku/majalah, meskipun saya sudah hafal tanpa harus melihatnya.
Namun pada saat iklan, dia langsung berdiri dan menjauhi bukunya. Sibuk joget-joget ataupun mengikuti gerakan yang ada diiklan, atau sibuk mengomentari.
“mama, baca… bacaaaa”, ucapnya sambil kembali duduk manis di dekat saya, saat iklan sudah berakhir dan acara sudah dimulai. *kluar tanduk*

atauuuu…..

saat aiyah baru datang dari kantor, dan menyalakan tivi. Atha langsung mematikan tivi sambil bilang “aya, uda alem, bobo!”, perintahnya sambil nowel pipi aiya-nya…. *wattaaaw*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s