Lembar Pertama untuk Aliyya

PhotoGrid_1361706954581Alhamdulillah tanggal 9 Januari 2013 telah lahir putri kedua kami, Zakia Aliyya Harjono. Persalinan kedua ini seperti pada umumnya lebih mudah dibandingkan dengan persalinan Athaya. Awalnya, saya berharap kalau si adik ini akan lahir di hari yang sama dengan Atha dan aiya, hehehhe…..

Sebetulnya tanggal 8 jam 7 malam, saya sudah merasakan mulas yang sudah mulai konsisten. Cuma saat itu saya masih ragu, apakah ini kontraksi beneran atau kontraksi palsu. Saya sudah lupa rasanya kontraksi pas Athaya itu seperti apa😀. Akhirnya jam 12 malam, aiya nganterin ke rumahsakit.

Singkat cerita, jam 3.45 pagi lahirlah si adik ini, dan akhirnya merasakan IMD yang ga saya rasakan waktu lahiran Athaya. Lumayan lah sampai setengah jam adik nyusu. Tanpa ada perasaan apa-apa, adik di bawa ke ruang bayi untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya. Menunggu selama 6 jam tanpa melihatnya membuat waktu berjalan sangat lama. Beberapa menit menuju akhir penantian, dokter jaga di ruangan bayi menelpon ke kamar. Dia menginformasikan bahwa Aliyya belum bisa rooming in, alasannya karena dia mengalami jitteriness. “Jadi bu, anak ibu harus segera di kasih sufor kalau terlambat dia nanti akan mengalami kerusakan otak”. What is that? hadeeeuh, saat itu juga, saya menjadi esmosijiwa tingkat dewa. Bagaimana tidak? Sudah nunggu begitu lama, tau taunya ga bisa ngeliat dan…. apa tadi? kerusakan otak????

Apa itu jitteriness, saya tidak tau. Jujur saya tidak memahaminya dan jujur, di kehamilan yang kedua ini saya tidak membekali ilmu karena menyamakan dengan kelahiran Athaya dulu yang lancar jaya. Baru begitu dapat informasi ini kami berdua browsing dan sibuk menanyakan kepada teman teman apa penyebab dan apa itu  jitteriness ini karena penjelasan dokter jaga ini membuat kami stress. Apakah Aliyya sakitnya separah itu? Kenapa mesti sufor?  Bukan, bukan saya anti pati sama sufor, tapi punya kandungan obatkah sufor itu sampai lebih disarankan ketimbang ASI. Sedangkan ASI saya udah keluar, meskipun ga banyak tapi saya yakin itu cukup dihari pertamanya lahir. Toh, kalopun saya berikan sufor ga lantas membatalkan saya untuk menjadi seorang ibu kan?

Memang, hasil lab kadar gula darah Aliyya berada di batas bawah. Diawal, saya bersikukuh untuk diberikan waktu memberikan ASI. Dan Alhamdulillah, hasil lab berikutanya guladarah Aliyya berangsur naik. Dari 40mg/dL menjadi 52mg/dL, saya jadi menaruh harapan pada ASI saya. Etapi, dokter anak yang ditunjuk rumahsakit ini teteup kekeuh memberikan sufor, dengan dalih kerusakan otak tadi. Tidak memberikan kami ruang diskusi. Sufor atau kerusakan otak. Titik. Helloooow……???? Awalnya kami berharap bisa berdiskusi karena hasil kami bertanya dan browsing teruskan ASI dan kalau bertambah parah barulah diberikan glukosa burol.

Akhirnya aiya –suamisaya– mengambil keputusan untuk mencari secondopinion. Dan ternyata langkah kami ini tidak disambut baik oleh dsa yang ditunjuk oleh rumah sakit. Beliau langsung memutuskan sepihak, penggantian dokter. Hahaha, si dokter mutung😀. Yowes, biarinlah demi kebaikan Aliyya. Bismillah, kami pindah ke dsa yang nanganin Athaya. Entah kenapa, meskipun sudah tau bahwa nih dokter super duper sibuk dan yakin sekali ga akan di visit kami lebih sreg. Benar, kami hanya konsultasi via telepon saja.

Menurut dokter Gunawan, jitteriness merupakan indikasi dari kerusakan otak, tapiiiiiii ga langsung ujug-ujug kerusakan otak. Jitteriness itu sendiri seperti kejang, bagian kaki bergetar selama beberapa detik. Yang membedakannya, dia akan berhenti jika kita pegang dan tidak bertambah kencang. 40mg/dL memang kondisi kritis, dimana bisa menyebabkan hipoglikemia. Penyebabnya bisa karena turunan dari si ibu atau diatasnya atau  bisa jadi karena pola makan yang tidak sehat pada waktu hamil. Saya dan keturunan diatas saya tidak punya sejarah diabetes, jadi kemungkinan memang karena pola makan yang slebor saat hamil. Dr. Gunawan inipun menyarankan untuk memberikan glukosa burol dan tetap memberikan ASI, sambil dipantau hasil kadar gulanya hingga 3 kali sampling. Alhamdulillah, kadar gula darah Aliyya berangsung stabil meskipun naik turun dibatas normalnya.

Ya, ini pelajaran buat saya untuk lebih berhati hati dan senantiasa memperbanyak ilmu. Jangan sampai anak menjadi korban karena ketidaktahuan orang tua. Eh, bener ga?

————–Ditulis ulang karena tulisan sebelumnya raib gara gara wrdpressmobile yang ga update. Maaf buat yang udah komen, komennya pada ilang :(————-

One thought on “Lembar Pertama untuk Aliyya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s